♥The Girl
♥ Megumi Nobu
♥.
♥Tagboard
Cbox .
♥Profile
♥ Megumi Nobu ♥.
17 May 1986
Ryokushoku o Obita
15
Email : Click Here
♥Cravings
A Bestfriend
A Loyal Boyfriend
A Real Family
Upgrading my Power
♥ Way Out
♥ Memories
♥
♥
♥ Music
Imeem . Music Codes Here :D
♥ 0 Songs Currently Playing ♥
♥Credits
Designer & Image: Agnes
Base Code: Tammy
Inspirations: Milky
Image Host: Tinypic
Others: Dorischu
♥ Rabu, 20 Januari 2010
I ♥ Hello Kitty
[BREAK-OUT]Bercanda.
Tiba-tiba saja setelah kedatangan Jun-kun berekor, Takeda-san meracau menjelaskan latar belakang keluarga yang selama ini tidak pernah diketahui oleh Megu. Konon, menurut Takeda-san—sang sopir pribadi terpercaya, keluarga besar Nobu memiliki darah siluman sekitar 9 sampai 10 generasi yang lalu. Siluman. Bisa kau percaya itu?
Kehidupan seorang Megumi Nobu selama ini tak pernah bersentuhan dengan hal-hal gaib, segala hal yang dia inginkan terpenuhi dengan mudah karena kekayaan keluarganya. Yah, itu jika Megu ingin melupakan beberapa hal gaib yang kadang terjadi di luar kendalinya. Seperti membuat diary-nya terjatuh saat dia menatap dan berpikir hendak mengambilnya. Dan terakhir, saat di mobil kemarin. Entah bagaimana, botol parfum yang dijatuhkan oleh Takeda-san bisa tiba-tiba melayang ke tangannya.
Jika sudah seperti itu rasanya sulit membantah dan mengatakan ketidakpercayaannya pada status darah keluarganya dan—kenyataan bahwa dia memiliki kekuatan aneh. Sebutlah itu sihir, seperti yang akan dipelajarinya nanti di Akademi Ryokubita. Bukan hal yang mudah membujuk seorang Megu yang tengah mereguk kepopuleran di bidang modelling. Apalagi menyuruhnya masuk ke sekolah asrama yang jauh dari hingar-bingar kehidupan gemerlap selebriti. Lantas, apa yang telah membuat nona muda itu akhirnya menerimanya?
Mau tahu?
Sungguh?
Megu kesepian dan jujur saja dia jenuh dengan kesehariannya yang hanya begitu-begitu saja. Meski berat meninggalkan dunia modellingnya untuk beberapa tahun ke depan, dia pada akhirnya memutuskan untuk masuk ke Ryokubita dan mempelajari bidang ilmu yang selama ini dia sebut dengan kata gaib. Megu juga tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya. Penasaran, mungkin. Dan salah satu penyebab utama dia memutuskan untuk masuk ke akademi sihir itu adalah Jun-kun.
Takeda-san mengantarnya sampai ke depan pintu Fujisaki Inn, dimana dia akan menginap selama beberapa hari. Dengan tatapan menyelidik, Megu mengamati bangunan bergaya kuno tersebut. Kagum sekaligus jijik. Semua serba kuno disini. Tak ada seorang pun yang memiliki selera fashion kelas atas seperti dirinya. Rasa-rasanya dia mulai menyesali keputusannya.
"Rasanya aku lebih baik pulang saja, Takeda-san," ujarnya cepat ketika Takeda-san hendak membukakan pintu Fujisaki Inn untuknya. "Aku tak mungkin hidup di tempat kumuh dan kuno seperti ini. It just impossible." Megu menggelengkan kepalanya.
"Jangan begitu, Nona. Nenekmu sudah bilang bahwa Nona seharusnya belajar merendahkan hati dan tidak bersikap meremehkan segala sesuatu. Justru dengan belajar di Ryokubita, Nona bisa belajar bersosialisasi dengan sesama penyihir muda," ujar Takeda-san, mencoba menahan Megu, "dan Nona tidak akan kesepian seperti di rumah."
"Siapa bilang aku kesepian?! Jangan kurang ajar. Sudahlah kau pulang saja, Takeda-san. Aku akan memberi kesempatan pada sekolah itu selama satu minggu! Jika aku tidak kerasan, kau harus segera menjemputku pulang!" Dengan kesal, Megu mengusir sopir pribadinya. Lancang sekali telah mengatakan dirinya kesepian meski itu memang kenyataannya. Yang sampai mati pun takkan diakuinya.
Gadis belia itu melangkah dengan anggun menuju konter, menatap angkuh pada orang-orang yang ada di dalam bar. Megu memesan satu kamar single dan langsung beranjak mencari kamarnya.
Dan dia tersasar.
Entah ada dimana dia sekarang. Biasanya selalu ada Takeda-san atau pelayan yang mengantarkan dan membawakan barang-barangnya. Kali ini tak ada. Panik. Kepanikan membuatnya tak melihat ke depan dan tiba-tiba saja kakinya tersangkut sesuatu.
"AAAAhhh!!"
GUBRAK
"Itte!"
"Kau juga payah, tak bisa melihat ke depan eh nona?"
Menyebalkan. Siapapun itu yang baru saja mengomentari dirinya. Ya, dia memang tadi tidak melihat ke depan karena dia panik. Ini tempat yang sama sekali asing baginya dan dia benar-benar sendirian tanpa didampingi Takeda-san atau pelayannya yang lain. Tempat kumuh ini benar-benar diisi oleh orang-orang yang tak punya sopan santun. Mengernyit kesal, Megu segera mengangkat tubuhnya dari tanah yang kini mengotori bajunya dengan sempurna. Beruntung wajahnya tidak terkena noda tanah sama sekali, tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila tanah kotor itu menempel di wajahnya. Menjijikkan.
Megu menatap orang-orang disana dengan tampang kesal yang tak dia sembunyikan. Menyipitkan mata saat menatap bocah gila yang hanya bisa berkomentar tanpa bertindak. Nampaknya, kaki sialnya itu yang menyebabkan dia dan perempuan satunya lagi terjatuh. Baru pertama kali ini Megu bertemu dengan sosok laki-laki yang tidak menghargai perempuan. Lihat bagaimana laki-laki itu balas menginjak seorang perempuan yang baru saja datang hendak membantu mereka.
Benar-benar. Tempat kumuh. Penghuninya pun kumuh.
Dan Megu ada di antara kekumuhan tersebut. Cih.
"WOAAAH!!! KECELAKAAN BERUNTUN! SUGOI!!"
Sugoi? Sugoi gundulmu!
Bisa-bisanya bocah itu menjerit-jerit tak karuan melihat orang lain celaka. Dia itu laki-laki atau bukan? Megu benar-benar kesal. Apalagi ketika melihat heels stilletonya patah sebelah. Dengan geram Megu menatap ke arah patahan heels tersebut—memusatkan konsentrasi dan memerintahkan patahan sepatu tersebut melayang kencang langsung ke arah bocah menjerit. Dan patahan heels sepatu itu pun melayang sendiri sesuai perintahnya.
SYUUUUT—
PLETAK!
Senyum sinis pun tersungging di bibirnya.
Well, well, well. Tak ada ruginya memiliki kekuatan lebih. Deshou?
Menarik.
Megu melihat dengan jelas apa yang terjadi pada heels stilletonya saat hampir mengenai si lelaki pemekik. Berhenti tepat sebelum menyentuh kulit seperti tertabrak dinding transparan lalu terjatuh begitu saja ke tanah. Rupanya dia memiliki kemampuan lebih seperti Megu. Benar juga, tempat ini adalah dunia sihir yang berbeda dengan lingkungan tempat tinggalnya. Tak aneh bila ada banyak orang yang seperti dirinya sendiri. Well, pandangan Megu mulai sedikit berubah tentang tempat kumuh ini. Merasa sejenis, mungkin?
Gadis belia itu merasakan perbedaan yang kontras. Sebelumnya, dia selalu berada di tempat-tempat yang wajar, normal. Sekolah di sekolah biasa, menjalani pekerjaannya sebagai model, meladeni penggemar-penggemarnya, berbelanja sampai puas di butik-butik ternama dan berpesta bersama teman-teman modelnya. Tapi disini, segala kenormalan, kemewahan dan popularitas itu seolah lenyap bersama jalinan angin yang kini mempermainkan surai keemasannya. Disini adalah dunia keduanya. Dia harus mulai belajar beradaptasi sekarang. Hal yang tak mudah bagi seorang nona manja seperti Megu.
"Siapa tadi yang melempar?!"
Berusaha bersikap biasa, gadis belia itu bangkit berdiri setelah melepas kedua sepatunya. Sulit untuk berjalan dengan sepatu yang heelsnya patah sebelah. Mau coba? Dengan anggun Megu berjalan sambil mengibaskan rambut pirangnya ke belakang—menghampiri anak perempuan yang tadi meminta maaf padanya. Mengulaskan senyum tipis.
"Tak apa. Seharusnya dia yang minta maaf," ujar Megu ketus seraya mengendikkan kepala ke arah pemuda yang tadi menjulurkan kakinya. "Kau punya sopan santun atau tidak?"
Lalu dia mengerling sejenak pada lelaki pemekik dan menjawab pertanyaannya, "Aku yang melempar. Dan aku ingin kamu menceritakan bagaimana caranya patahan heels itu tidak bisa mengenaimu." Megu berbicara dengan nada memerintah dan dingin meski dia sungguh ingin tahu lebih banyak.
"Namaku Nobu. Megumi Nobu," ujarnya singkat pada semua yang berada disana. Dia memang terkesan angkuh tapi dia tak seangkuh tuan yang tak ingin namanya disebut itu. Mendelik pada kedua anak lelaki bermarga Hiou; Megu menghela nafas. Perbedaan yang sangat kontras jika mengingat dua orang itu bersaudara. Yang satu luar biasa heboh seperti harimau lapar; yang satu lagi arogan luar biasa—rasanya Megu ingin sekali menimpuki batu ke wajah menyebalkan itu. Peduli setan dengan tampangnya yang ganteng.
Sudahlah, bukan saatnya marah sekarang. Dia ingin segera ke kamar lalu mandi dan berganti pakaian; lihat saja setelan mahalnya yang sudah kotor akibat terjatuh ke tanah. Kalau saja Takeda-san atau salah satu pelayannya ada disini, mereka pasti sudah ketakutan setengah mati dan buru-buru membawa gadis belia itu untuk membersihkan diri. Takut dipecat, tentu saja.
"Hey, kau. Kenichi Tadashii," ujarnya sambil menatap anak lelaki itu dan menyodorkan sepatunya yang telah patah sebelah, "Tolong, buang sepatu ini untukku. Dan bawakan koperku ke kamar. Aku ingin bicara denganmu; empat mata."
Tanpa menghiraukan jawaban yang mungkin diberikan oleh Tadashii dan tatapan yang dilemparkan entitas lain yang ada disana, Megumi beranjak dari taman tersebut setelah memastikan Tadashii akan mengikuti sambil membawakan barang miliknya. Dia kemudian teringat bahwa tadi dia sampai ke taman itu karena tersasar. Heu—
Di mana kamarnya berada, ngomong-ngomong?Label: BreakOut 2001
Been Here @ 03.35